Rabu, 15 November 2017

PULANG




Saat itu tengah malam dan semua orang telah membaringkan badannya dengan mata terpejam begitu pulas beralaskan tikar, sedangkan di ranjang yang beroda, terlilit kabel dan alat-alat medis, dalam kamar ukuran 4 x 5 itu seorang wanita telah terkulai lemas tak berdaya, bagaikan dipasung, meraung-raung menahan kesakitan di bagian kepalanya, sebut saja ia mamah syifa. Malam itu ditemani oleh keluarga, dan mawar anak perempuannya melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dan membimbing mamah untuk bedzikir kepada Allah, untuk menenangkan hatinya.
“ Mba sakit kepala, doakan mamah bisa berangkat haji tahun ini ” Ucap mamah saat itu, itulah cita-cita mamah yang sangat dinantikan selama ini, mawar berusaha sekuat mungkin terlihat tegar untuk tersenyum dan memotivasi mamah, padahal ada duka dalam hatinya yang tersembunyi, malam itu begitu mencekam, horor bahkan lebih horor dari pada film dan cerita-cerita misteri.   
“ Mamah semangat sembuh, dan pasti bisa berangkat haji “ jawab mawar.
“ Mamah, maafkan mawar “ kata mawar sambil meneteskan air mata.
“ Maaf untuk apa mba, sama maafkan mamah juga “ balas mamah syifa
“Maaf untuk semuanya, atas segala dosa-dosa yang telah mawar lakukan dan itu menyakitkan hati mamah “ kata-kata mawar seperti mengisyaratkan sesuatu akan terjadi pada dirinya, dan itu tidak diinginkan, mungkin itu hanya pikirannya yang buruk atau akan menjadi kenyataan, air matanya tidak pernah berhenti, sedangkan mamahnya terus  berjuang melawan kesakitan sepanjang malam,
Ketika Mamah mulai sedikit tenang, ia minta diantar ke kamar mandi berniat mensucikan tubuhnya dan melaksakan shalat malam, itulah kebiasaan dia saat masih sehat, kini dia tak mampu melakukannya jangankan untuk berdiri dan jalan ke kamar mandi, ingin duduk saja harus kerja keras dengan melawan rasa sakitnya itu, namun terjatuh dan terjatuh lagi, tetapi tetap saja memaksa dengan keadaanya, pada akhirnya diambilkan air segayung dan mawar menuntunya berwudhu dan shalat malam dengan terbaring, kemudian mawarpun ikut shalat malam atas perintah mamahnya.
Adzan subuh berkumandang menggelegar, sampai fajar tiba mamah masih belum juga memejamkan matanya, dua orang berseragam putih datang dengan jarum suntik yang panjang siap menusuk lengan mamah.
“Permisi ibu saya ambil darahnya untuk dichek di laboraturium “ ujar perawat.
“Saya sakit apa suster, ada apa dengan kepala saya.” tanya mamah pada sang perawat.
“Nanti siang ada dokter yang memeriksa, ibu sabar ya.” kata perawat itu menenangkan.
Pukul 06.00 pagi mamah baru bisa tidur, setelah selesai dibersihkan untuk mengganti baju, dan ayah pergi berangkat kerja, saat sarapan pagi khas rumah sakit tiba, mamah terbangun dari tidurnya dan mawar pun menyuapin, sambil berbincang dan menghiburnya. Baru 6 suap yang dilahapnya, mamah bereaksi aneh membuat bingung semua orang, tangan kakinya kejang, mata melotot dan menjerit kesakitan serta hilang kesadaran, mawar lari tergopoh-gopoh menuju ruang perawat meminta tolong untuk segera diambil tindakan. Dan adiknya mawar yang menjaga saat itu berinisiatif menelpon ayah dan sanak saudara.
Tidak lama dokter dan kerohanian rumah sakit datang untuk memberikan penanganan baik secara medis maupun rohani, “Mba tensinya 180, sangat tinggi dan kita ambil darah untuk di cek, mungkin hilang sadar dan kejangnya itu“ penjelasan dokter
“Lakukan tindakan yang terbaik dok untuk mamah.” mawar memohon pada dokter, untuk segera diambil tindakan medis dan dokter menyarankan pindah ruangan ke ICU, yang menurutnya akan mendapatkan perhatian khusus, karena di ruang ICU akan ada perawat yang menjaga 24 jam, dalam bayangan mawar ruang ICU itu hanya akan memisahkan mereka selamanya, namun dengan berat hati mawar pun akhirnya menandatangani persetujuan pindah ruangan di ICU. Hatinya semakin gelisah, ia berdiri seperti tak menapak, berjalan seperti tak menatap, begitu rapuh, meski tidak sanggup tapi kenyataan ini tetap harus dilalui.
Saat di ruang ICU berbagai macam dokter berdatangan, mulai dari dokter penyakit dalam sampai spesialis penyakit syaraf. Keluarga menaruh harapan yang sangat besar kepada dokter yang menangani mamah. “Bapak segera urus administrasi untuk dilakukan CT Scan karena organ tubuh sebelah kiri responnya sudah berkurang” saran dokter kepada ayah mawar.
Ayahpun segera mengurus persyaratan untuk CT Scan, Selang beberapa jam setelah dilakukan CT Scan kesadaran mamah semakin menurun, berbagai macam alat dipasangkan di tubuhnya, ada layar seperti monitor, dan tampak garis yang bergerak naik turun pada layar monitor itu, terdengar suaranya yang khas, begitu menakutkan, tidak buruk tidak juga merdu, melainkan membuat mawar semakin was-was dengan keadaan mamah. Sayang sekali saat itu hasil Scan tidak bisa diketahui langsung, sepanjang malam mawar sendiri menemani mamah dalam ruangan yang hanya di skat antara pasien lainnya, ruangan itu penuh haru, setiap waktu selalu ada yang pergi meningalkan ruang, bukan karena sembuh melainkan karena kembali untuk selamanya kepada Tuhan.
Keesokan harinya sampai sore tiba belum ada dokter atau suster yang menjelaskan tentang keadaan mamah yang pasti, sedangkan mamah sudah dalam keadaan koma, hati dan jiwanya melayang berkecamuk menjadi satu, menerobos lorong waktu beberapa hari silam, sebelum mamah terbaring tidak berdaya di Rumah Sakit.
“Mah, do’akan mba, maaf belum bisa membahagiakan mamah dan bapa“ curahan hati mawar kepada mamah, waktu itu mawar baru saja berhasil mendapatkan gelar sarjananya, umumnya seorang yang baru lulus kuliah dan menjadi sorang sarjana adalah ingin mencari pekerjaan yang layak di perusahaan yang keren, tapi tidak bagi mawar, ia hanya ingin melanjutkan belajar kejenjang yang lebih tinggi yaitu S2.
“Tidak perlu minta maaf, karena mamah tidak menginginkan apapun, yang penting kamu jadi anak sholehah, setinggi apapun kamu kalau tidak menjadi wanita sholehah untuk apa semua itu” nasihat mamah pada mawar.
“Mamah mengerti apa yang diinginkan mba, dan mamah hanya bisa mendoakan kamu yang terbaik, semoga semua cita-citanya tercapai “ ucap mamah, suasana menjadi haru, terlebih mamah melanjutkan curahan hatinya masa lalu, bahwa mamah juga sama seperti saya menginginkan pendidikan yang tinggi, pekerjaannya yang layak serta ilmunya yang bermanfaat, karena memang mamah adalah wanita yang cerdas dan terampil, mempunyai potensi yang besar, namun cita-citanya tidak tersalurkan karena keadaannya yang memaksa untuk menerima, bahwa ia terlahir tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya dengan penuh sebab perpisahan mereka dan kemampuan ekonominya yang terbatas. Sampai suatu saat mamah ingin diberangkatkan ke Arab menjadi TKI, hidupnya begitu keras sehingga menempa dia menjadi wanita tangguh. Dan saat ini ia tidak menginginkan itu terjadi pada mawar.
Mamah selalu meridhoi setiap langkah mawar sepanjang itu tidak bertentangan dengan agama. Pengumuman beasiswa S2 pun keluar, dan mawar masuk dalam daftar untuk mengikuti seleksi selanjutnya di Ibu Kota.
“Mamah mba lulus dan akan test wawancara” dengan hati yang riang memberi kabar kepada mamahnya.
“Ya… Alhamdulilah Mba..” jawab mamah, wajahnya terlihat pucat dan layu tidak seperti biasanya. tidak nampak keceriaan seperti yang mawar gambarkan. Karena ada yang aneh dalam diri mamah, mawarpun berangkat test wawancara dengan hati yang tidak nyaman.
Kring.. kring.. terdengar suara nada dering panggilan di HP mawar, dilihat ternyata mamahnya menelpon, yang saat itu mawar sedang mempersiapkan test wawancara besok. Kemudian mawar menerima telpon dari mamah dengan hati girang.
“ Halo… Asslamualaikum, mamah lagi apa?” sapa mawar.
“Mamah habis shalat dzuhur, bagaimana disana mba, baik-baik saja ? sudah makan belum ?” suara mamah, seperti merintih menahan rasa sakit.
“Sudah makan mah, mamah kenapa, mamah sakit ?” sahut mawar, firasatnya tidak enak.
“Iya mamah sakit, tadi shalat saja sambil duduk” jawab mamah dengan suara yang merintih tidak bisa menutupi bahwa ia sedang sakit. Akhirnya telpon segera diakhiri oleh mawar, karena ia tak mampu menahan air matanya.
Seharian mawar khawatir dengan keadaan mamah, keesokan harinya mawar memutuskan mencari tiket pulang ke daerah yang terkenal dengan sebutan Kota Udang, dalam pikirannya hanya ada mamah, tidak ada lagi wawancara, S2, kampus UI. Yang paling utama adalah mamah ia rela meninggalkan itu semua untuk mamah. Sekejap ia sadar bahwa dia hanya sedang mengingat hari kemarin yang sudah berlalu, tapi kini yang dihadapi adalah kenyataan, mamah sedang berjuang melawan sakitnya antara hidup dan kematian, entah virus apa yng telah bersarang di kepalanya.
Banyak orang berlalu lalang menjenguk mamah, sahabat dan sanak saudara menemani, ruang itu sangat ramai namun jiwa mawar sunyi, kali ini ia harus berserah pada takdir Tuhan. Segala upaya telah dilakukan dengan maksimal. Aku mempersiapkan diri dipanggil dokter, bukan uang juga persyaratan lainnya yang disiapkan, tapi tentang keikhlasan hati.
“Mba, kami dokter sudah berupaya semaksimal mungkin, tapi melihat kondisi Ibu sepertinya semakin menurun, kami sudah tidak bisa melakukan tindakan apapun pada Ibu.” Dokter menjelaskan bahwa ini sudah sampai batas kemampuannya yang maksimal.   
Mawar tak ingin beranjak pergi di sisi mamah, setelah dari ruangan dokter, ia hanya ingin bersama mamahnya, sambil mengaji dan berlinang air mata berharap akan ada keajaiban yang terjadi pada mamah, tapi hatinya juga mengatakan sepertinya hanya bersisa dalam hitungan jam ia bersama.
Waktu terus berjalan suara dari layar monitor itu semakin tajam terdengar, lalu mawar membimbing kalimat Allah di telinga mamah, ia percaya bahwa kalimat itu akan mengantarnya kembali pada Tuhan dengan tenang. Arah jarum jam menunjukan dini hari tepat pukul 01.30 WIB tanggal 23 Januari 2016, mamah menghembuskan nafas terakhirnya. Pompa jantung dan alat kejut dimainkan oleh perawat, padahal aku sudah mengikhlaskan dan menyaksikan kepergian mamah. 12 hari di Rumah Sakit bersamamu penuh dengan ketegangan. Cukup membuatku mengerti bahwa betapa pentingnya hadirmu dan arti pengorbanan serta kasih sayang, yang selama ini aku telah khilaf dan mengabaikanmu.
“ Maafkan aku, Aku sangat mencintaimu mamah ” Ucapku diatas batu nisan..
  

Cirebon, 16 September 2017
Karya : Ismatul Maula








Rabu, 07 Juni 2017

RINDU



RINDU
By : Ismatul Maula
Cirebon, 8 Juni 2017
                                                                                     
Bayangmu selalu hadir di setiap hela nafasku,
Resah dan Gelisah berkecamuk menjadi satu,
Engkau kah rindu itu, ?
Yang mencintaiku sepenuh hatimu,
Yang selalu menggentarkan kalbu ku,
Menari-nari di taman hatiku,
Bersenandung rindu tanpa mengenal waktu.
Oowh Rindu,
Engkau selalu hadir bersama mimpi-mimpiku,
Engkau ada dalam rintihan hatiku,
Engkau telah mengikatku bersama rindu,
Engkau hadir melengkapi separuh jiwaku,
Enggkau kah rindu itu ?
Yang perlahan telah menaklukan hatiku,
Sehingga aku tak mampu menahan rindu,
Aku  Sangat Rindu,
Merindukan Rindu.

Senin, 20 Maret 2017

MISTERI SEPARUH JIWA




Pelajaran hidup yang menjadikan tangguh adalah dari kepahitan, dan sepanjang perjalanan hidupku yang paling pahit adalah mengaharap kepada sesama mahluk. Babak ini berawal setelah ibu meninggalkan aku untuk selamanya, bagiku beliau adalah sosok wanita tangguh yang aku banggakan, insya Allah beliau mati dengan khusnul khatimah karena sepanjang hari penuh dengan ibadah dan kebaikan, karena aku menyaksikan ada keistimewaan menjelang sakaratul mautnya, yang meyakinkan ku akan pentingnya amal sholeh dan menanam  kebaikan untuk kembali menghadap kepadaNya.
Namun dalam proses menanam itu sudah sunnahtullah kita sebagai mahluknya bahwa dalam menjalani hidup yang kelak kita pertanggungjawabkan adalah tingkah laku kita semasa di dunia, baik hablum minallah yaitu hubungan kita sebgai mahluk terhadap sang khalik, hablum minannas bagaimana kita berinteraksi antar sesama manusia, serta hablum minal alam yaitu hubungan kita dengan alam yang juga mahluk ciptaan Allah Swt.
Baiklah aku hendak mengisahkan tentang seseorang itu, awalnya adik kelas saya sebut saja A menghubungiku, dia menanyakan persoalan hubungan aku bersama masa laluku, ga ada angin ga ada ujan tiba-tiba bertanya tentang aku dengan Pulan, akupun heran, setelah ngobrol panjang kali lebar eh ternyata dia punya missi untuk mengenalkan temanya dengan aku yang katannya berniat untuk serius dan mencari perempuan yang juga ingin serius. Satu sisi aku bingung, tapi pada sisi lain aku tak tahu harus sampai kapan menutup diri. Akhirnya aku mengiyakan untuk berteman dengan F.
Episode baru telah dimulai, aku berusaha menekan ego dan untuk tidak lagi mengingat masa laluku. Pertemanan kami mulai melalui medsos BBM. Akupun menyambut dengan asma Allah dan sebisa mungkin bersikap ramah dan peduli terhadap yang berniat baik, mungkin ini jalan yang Allah berikan, meskipun ada banyak kemungkinan bisa berjodoh juga bisa tidak, ataupun pertemenan kami membawa manfaat lain. Prinsipnya yang slalu aku pegang adalah silaturahmi membawa keberkahan.
Karena tak ingin terulang kesekian kalinya dan salah dalam memilih. Aku mengujinya dengan berbagai pertanyaan, rasanya tidak adil, terlalu serius dan idealis mungkin, setiap komunikasi dia selalu merasa terintimidasi dan terhakimi, sebab dia tipe yang tidak suka berdebat, padahal jauh di lubuk hati aku tidak berniat sedikitpun untuk berdebat mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah, saya akan menghargai setiap pendapatnya saya paham betul bahwa jawaban itu bukan hal yang pasti bisa dihitung 1+1=2, namun rumit untuk dipikirkan dan lebih rumit dari pada matematika, sebab masing-masing punya sudut pandang berbeda saya hanya ingin mencari titik temu agar seimbang dan harmonis nanti jika berjalan bersama beriiringan, berkaitan dengan niat dan komitmen kita di awal, bahwa kita ingin serius dan mengungkap tabir rahasia Ilahi tentang jodoh.
Sehingga pada satu titik pertanyaan saya menemukan jawaban yang sangat prinsip dan sayapun mengamininya, yaitu tentang pondasi Iman dan Takwa dalam segala hal berprilaku. Terlebih dalam membangun keluarga sangatlah penting. Meskipun itu hanya tulisan yang membutuhkan pembuktian lain berupa aplikasi nyata menerapkan Iman dan Takwa dalam kehidupan sehari-hari sehingga bukan hanya omong doang. Tetapi menurut saya paling tidak jawaban yang terlontar itu ada dalam pikirannya, urusan aplikasi bisa belajar bareng dan saling mengingatkan antar sesama, toh saya juga belum benar 100%, dan hidup ini adalah dinamis selama belum menemukan kematian, setiap orang berpotensi untuk baik atau buruk dalam akhir hidupnya dan juga Allah bisa mencabut atau memberi hidayah kapan saja Dia kehendaki, yang paling sulit adalah istiqomah menjaga hidayah itu. Saya pikir itulah keseimbangan, dan saya berharap kita bisa saling mengingatkan dan melengkapi.
Saat itulah aku punya pandangan baru dan berkomitmen untuk menjaga hatiku dan fokus pada F, secara bertahap membuka hati dan mengubur masa laluku yang dijadikan pelajaran. Namun sikap yang saya ambil adalah tarik ulur, karena saya hanya berkomunikasi via medsos, belum bertemu sama sekali bahkan baru mengenal sedikit berani memang. Tapi saya juga mencari tahu profile dia, akhirnya kami sepakat untuk bertemu pada Tahun Baru 2017, saya pilih di rumah, karena baiknya seperti itu dan salah satu indikator penilaian adalah dia datang dengan niat yang kuat dan berani ke rumah.
Malam itu hujan lebat sekali, kami berjanji untuk bertemu ba’da isya karena hari itu saya harus lembur berangkat ke kantor untuk mengerjakan laporan akhir tahun, di kantorpun aku gelisah sebab sampai menjelang magrib pekerjaan belum selesai khawatir janji kami batal. Alhamdulilah ternyata mati lampu dan ibu manager memutuskan menyuruh saya pulang, namun rasa gelisah belum juga hilang karena hujan semakin deras, saya menghubungi F meminta untuk tidak datang karena hujan khawatir sakit. Namun dia tetap memaksa ingin datang ke rumah, ya saya tidak bisa menghalanginya, setelah beberapa jam dia menghubungi saya menanyakan alamat pastinya sebab dia salah jalan, saya suruh putar balik tetap salah, dia meminta saya intuk menyusul, tapi saya tidak menyusul karena males dan banjir dijalanan, agak lama dia dateng juga kerumah. Terkejut karena kondisinya basah kuyup, sambil membawa roti bakar, lalu saya memberikan handuk. Lalu kami saling mengobrol dan mengenal.
Perasaan saya campur aduk saat itu, seneng, bingung, dan ada perasaan bersalah sebab membiarkannya pulang dengan kehujanan. Setelah pertemuan itu saya tetap mengambil sikap tarik ulur, karena semuanya butuh proses, setiap malam aku selalu berdoa yang terbaik untuk aku dengannya, sehingga membuat hatiku yakin dan mantap.
Aku memikirkan segala halnya yang mungkin terlalu jauh dan tidak terpikirkan olehnya, aku selalu menuliskan rencana yang hendak dibangun bersamanya, baik soal ekonomi, mendidik anak dan kegiatan sosial yang bermanfaat untuk banyak orang. Sikap tarik ulur dan komitmen yang aku bicarakan sebenarnya adalah bisa dipertanggungjawabkan, hanya saja butuh waktu untuk mengatakannya, namun berbalik dia yang terlalu terburu minta kepastian, padahal saya hanya butuh waktu sedikit untuk berproses dan mendalaminya apalagi dia orang yang baru aku kenal.
Seiring berjalannya waktu aku mendekati keyakinan, meskipun beberapa kali dia membahas kearah yang lebih serius aku slalu mengalihkan, tapi jauh di lubuk hatiku sebenarnya mengharapkan hal yang sama, ingin bersamanya, tapi aku juga tak ingin mendahului takdir Tuhan, agar tak terlalu sakit bila jauh dari harapan, entah benar atau salah dalam bersikap yang jelas saya hanya ingin melibatkan Tuhan.
Salah satu yang aku pikirkan adalah bagaimana menjadi ibu dan madrasah bagi anak-anakku kelak, namun tetap bisa berkarya, karena tak selamanya aku kerja sebagai karyawan apalagi di swasta yang kapanpun bisa di PHK, juga terkait waktu kerja ku dengan waktu kerjanya tidak akan maksimal untuk membangun keluarga dan menjadi madrasah bagi anak-anak. Aku berupaya menghilangkan ego dan berusaha untuk menyeimbangkan agar bersinergi berjalan beriringan bersamanya, salah satunya adalah usaha yang sedang saya rintis ini yaitu produksi hijab, saya pikir usaha ini bisa dibangun bersama dan mendapat bimbingan darinya, karena dia sudah menjalankan konveksi 4 tahun lamanya, selain nilai ekonomis juga tujuan sebenarnya adalah nilai kebermanfaatan untuk ummat, lalu saya mendiskusikan dengan F terkait usaha ini dan Alhamdulilahnya mendapat suport, idealnya membangun usaha itu bermula dari niat yang kuat dan kemauan yang keras untuk belajar, bukan karena suatu hal juga bukan karena seseorang, namun bagiku F itu merupakan salah satu faktor yang menginspirasi ku untuk membangun usaha dan suportnya sangat penting bagiku, dan aku merasakan bahagia karena terkait dengan niat yang ingin serius katanya.
Dua bulan kebalakang aku selalu memikirkannya, mungkin aku lebih aktif dari biasanya intensitasku mengajak komunikasi lebih banyak dari dia, setiap harinya aku slalu ingin tahu kabar tentangnya, kini berbalik dia yang merespon biasa saja. Kesal memang tapi aku harus belajar mengendalikan emosi, tentang cinta, rindu bahagia dan kecewa adalah yang semu, berbolak balik seenaknya, namun itu adalah ketentuan Tuhan, Allah Yang Maha membolak balikan hati manusia, 
Siang hari, tepatnya tanggal 16 Maret 2017 aku BBM seseorang yang mengganggu pikiran dan hatiku selama dua bulan ini, suasana hatipun riang ketika dia membalas BBM, namun seketika aku merasa tercambuk, ketika alam bawah sadarku mengatakan “I will always miss you”. Dan dia menjawab “awas ada setan yang menghasut”. Aku tak bisa berkata apapun, hanya melafazhkan istigfar, hatiku terenyuh dan mata berkaca-kaca. Aku takut akan dikuasai hawa nafsu. Mungkin aku khilaf atau aku sudah lelah, atau diakah yang memang Allah takdirkan untuk menjadi Imam ku.
Tuhan maafkan aku yang telah lalai menjaga diri dan ucapan ini, aku merasa wanita yang paling hina dihadapanMu. Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku yang banyak menabung dosa. Sehingga tak dapat ku mengerti akan petunjuk cahaya dari Mu. Aku tak pernah tahu mana yang terbaik untukku, slalu salah dan salah lagi dalam memilih sesuatu baik itu tentang jodoh, teman, pekerjaan, usaha dan lain-lain.
Pada malam minggu tanggal 18 Maret 2017, keresahan dan kegelisahan ini tak mungkin aku biarkan, akhirnya aku memutuskan untuk meminta kejelasan dan kepastian mengenai keseriusannya, jika ia aku akan mengambil jalan Tuhan yang diridhai yaitu Menikah. Dan saya sudah siap dengan segala resikonya, baik paket senang maupun kesabaran dalam menjalani rumah tangga. Namun ternyata aku juga harus siap menerima kenyataan yang jauh dari harapan, pada kesimpulan bahwa dia sudah memiliki tambatan hati yang lain. 
Setelah mendapat jawaban itu, hatiku bagai disayat-sayat, bahakan tersambar petir hancur berkeping-keping, ya agak lebai sih tapi jujur, aku hilang arah menangis menyesal, menangis haru dan menangis memohon ampun pada Tuhan yang Maha Kuasa. Allah menunjukan sesuatu lagi yang harus aku hadapi, sebenarnya hampir sama dengan masa lalu, seharusnya aku sduah kebal tahan banting untuk patah hati, padahal belum terlalu jauh dekat dan saling berbagi rasa, namun mimpi dan cita-citaku besar dan sudah terlampau jauh yang hendak aku wujudkan serta ingin aku upayakan bersamanya. Entah aku yang terlalu ego, dia yang tak serius hanya ingin main-main atau tak sabar menunggu proses. Bisa jadi memang tidak ditakdirkan untuk bersama. dan semua masih misteri, aku tak tahu sampai di sini kah akhir cerita atau bersambung.
Diawal perkenalan kita sudah membahas. Apapun yang terjadi kita harus saling mengikhlaskan dan saling menerima tidak ada permusuhan, dan ternya sekarang waktunya aku hadapi semua ini dan bersikap besar hati menerima kenyataan. Diap tetap baik dan akan menjadi teman baik,  namun tidak akan lebih dari itu. Adanya atau tanpanya aku harus kuat, kembali merangkai mimpi dan cita-citaku. Sekalipun harus berjalan satu kaki untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Karena hidup adalah ujiang yang harus dihadapi dan dipertanggungjawabkan.
Ku bersyukur dan berprasah atas segala kehendak Mu Ya Rabbi, ku Mohon yang terbaik menurut Mu dan Ridha Mu, karena tujuan hidup yang paling hakiki adalah kembali kepada Mu, dunia ini hanya sementara dan jalan untuk mencapai tujuan itu, saya masih menantikan rahasia apa yang hendak Engkau ungkap dan separuh jiwa manalagi yang akan menjadi bagian dari episode hidupku, atau menemaniku selamanya sampai kembali ke sisi Mu Tuhan. Aku ikhlaskan diriku menjalani skenario Mu dan Hatiku akan belajar berdamai dengan ketentuan Mu. Aku punya rencana tapi Tuhan Maha perencana, Yaa Gofur, Yaa Rahman, Yaa Rahim, Engkau Maha mengetahui atas segala sesuatu.


Cirebon, 20 Maret 2017
Ttd
Menanti Separuh Jiwa

PULANG

Saat itu tengah malam dan semua orang telah membaringkan badannya dengan mata terpejam begitu pulas beralaskan tikar, sedangkan di ranja...